Kacamata AI dari Korea Selatan yang Membantu Tuna Netra “Melihat” Dunia
Prototipe kacamata pintar berbasis AI membantu pengguna mendeteksi rintangan di trotoar melalui kamera dan sistem pengenalan objek. Penemuan ini membantu pengguna menavigasi lingkungan yang komplek dengan lebih percaya diri dan mandiri.
Di trotoar kota yang sibuk, setiap langkah bisa menjadi tantangan bagi seseorang yang tidak dapat melihat. Kendaraan yang melintas, tiang rambu yang tiba-tiba muncul di jalur pejalan kaki, hingga kerumunan orang yang bergerak cepat—semuanya dapat menjadi rintangan yang sulit diprediksi.
Bagi jutaan penyandang tuna netra di dunia, berjalan di lingkungan perkotaan sering kali membutuhkan bantuan tongkat khusus atau pendamping. Namun para peneliti di Universitas Korea Selatan sedang mengembangkan sistem kacamata XR (Extended Reality), sebuah teknologi super canggih yang dapat mengubah pengalaman seseorang secara drastis, yakni kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan yang mampu membantu pengguna memahami lingkungan di sekitar mereka.

Alih-alih mengembalikan penglihatan secara biologis, teknologi ini memberikan sesuatu yang hampir sama pentingnya—kemampuan untuk mengetahui apa yang ada di depan mereka.
Sistem ini menggunakan model AI bernama YOLOv8, yang mampu mengenali objek di depan pengguna dan memberikan panduan berjalan yang aman.
Ketika Kacamata Menjadi “Mata Digital”
Perangkat ini terlihat seperti kacamata biasa, tetapi di bagian depannya terdapat kamera kecil yang terus memindai lingkungan sekitar. Gambar yang ditangkap kamera kemudian dikirim ke smartphone pengguna, di mana sistem kecerdasan buatan (AI) menganalisis setiap objek yang terlihat.
Teknologi pengenalan objek ini memungkinkan sistem mengidentifikasi berbagai hal di sekitar pengguna, seperti:
- Kendaraan yang melintas
- Trotoar dan jalur pejalan kaki
- Rambu lalu lintas
- Pintu masuk bangunan
- Orang yang berjalan di sekitar
Setelah objek dikenali, sistem akan memberikan instruksi navigasi kepada pengguna melalui suara atau getaran kecil. Dengan cara ini, pengguna dapat mengetahui apakah jalur di depan mereka aman untuk dilalui.
Memetakan Dunia dalam Zona Aman
Salah satu fitur menarik dari teknologi ini adalah cara sistem memetakan ruang di depan pengguna. Area pandangan dibagi menjadi beberapa zona kecil. Sistem AI kemudian menilai setiap zona untuk menentukan apakah terdapat rintangan atau bahaya.
Jika kamera mendeteksi sesuatu yang menghalangi jalan—misalnya sepeda yang diparkir di trotoar atau tiang listrik—sistem akan memberikan peringatan dan menyarankan arah langkah yang lebih aman.
Pendekatan ini membantu pengguna menavigasi lingkungan yang kompleks dengan lebih percaya diri dan mandiri.
Uji Coba di Jalan Kota
Teknologi ini telah diuji di jalur perkotaan sepanjang beberapa kilometer di South Korea. Dalam pengujian tersebut, sistem berhasil mendeteksi berbagai objek umum yang sering ditemui di lingkungan kota.

Para peneliti masih terus mengembangkan perangkat ini agar dapat bekerja lebih baik dalam kondisi yang lebih menantang, seperti:
- Pencahayaan rendah di malam hari
- Cuaca hujan
- Lingkungan yang sangat ramai.
Dengan peningkatan teknologi kecerdasan buatan, sistem seperti ini diperkirakan akan semakin akurat di masa depan.
Masa Depan Teknologi Aksesibilitas
Selain kacamata pintar, ada juga teknologi lain dari Korea Selatan yang membantu penyandang tunanetra, misalnya: Taptilo, perangkat pembelajaran braille berbasis AI yang dikembangkan oleh perusahaan telekomunikasi SK Telecom. Perangkat ini membantu pengguna belajar membaca huruf braille melalui interaksi suara dengan asisten AI.
Teknologi seperti ini bertujuan untuk mengatasi masalah kurangnya guru braille dan mempermudah pendidikan bagi penyandang tunanetra.
Kacamata AI hanyalah salah satu contoh bagaimana teknologi modern mulai membantu manusia mengatasi keterbatasan fisik. (DIN | Foto: Istimewa)
