Mata Harimau Sumatra: Tatapan Terakhir “Sang Penjaga Hutan”.
Di balik rimbun dedaunan, sepasang mata mengamati dunia yang terus menyusut. Harimau Sumatra bukan hanya predator puncak, ia adalah indikator kesehatan hutan. Ketika ia menghilang, ekosistem akan runtuh perlahan, nyaris tanpa suara. Harimau Sumatera juga subspesies harimau endemik terakhir yang ada di Indonesia.

Tekanan terhadap Harimau Sumatera semakin nyata. Subspesies harimau terakhir di Indonesia ini kini berstatus Kritis (Critically Endangered) menurut IUCN. Dengan populasi yang tersisa ratusan ekor di alam liar, massa depan predator puncak hutan Sumatera tersebut berada dalam situasi genting.
Populasi Tersisa Sekitar 600 Ekor
Berdasarkan data konservasi terbaru, populasi harimau Sumatera diperkirakan berada pada kisaran 568 – 600 individu yang tersebar di sekitar 20-an kantong habitat di Pulau Sumatera.
Beberapa Kawasan yang menjadi benteng terakhir mereka antara lain:
- Taman Nasional Kerinci Seblat – diperkirakan dihuni 115 – 130 individu.
- Taman Nasional Gunung Leuser – bagian dari Ekosistem Leuser yang menjadi habitat penting satwa liar Sumatera.
- Taman Nasional Bukit Barisan Selatan – kawasan konservasi utama di bagian Selatan Sumatera.
Meski angka ini menunjukkan bahwa harimau masih bertahan, para peneliti menegaskan bahwa populasi tersebut tersebar secara tergramentasi akibat pembukaan hutan dan Pembangunan insfrastruktur.
Deforestasi dan Jerat Jadi Ancaman Serius
Hilangnya habitat menjadi faktor utama penurunan populasi. Alih fungsi hutan untuk perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan proyek pembanguan telah mempersempit ruang jelajah harimau.
Selain itu, perburuan ilegal masih menjadi ancaman laten. Bagian tubuh harimau memiliki nilai jual tinggi di pasar gelap internasional. Jerat yang dipasang untuk satwa liar juga kerap melukai harimau.
Konflik manusia – satwa liar pun meningkat. Ketika mangsa alami berkurang, harimau terkadang masuk ke area kebun atau pemukiman warga.
Dr. Joe Figel, ahli bilogi konservasi yang terlibat dalam pemantauan harimau di Sumatera, menegaskan bahwa perlindungan habitat adalah kunci utama.
“Kami masih menemukan populasi yang relatif kuat di beberapa kawasan. Namun tanpa perlindungan habitat yang konsisten dan penegakan hukum yang tegas, penurunan bisa terjadi sangat cepat,” tandasnya.
Para pakar menyebut bahwa penyelamatan harimau tidak cukup hanya dengan patroli anti-perburuan. Dibutuhkan kebijakan tata ruang yang berpihak pada konservasi serta keterlibatan aktif masyarakat sekitar hutan.
Sebagai predator puncak, harimau Sumatera berfungsi menjaga keseimbangan populasi satwa mangsa seperti rusa dan babi hutan. Jika harimau hilang, struktur rantai makanan akan terganggu dan berdampak pada keseluruhan ekosistem hutan. Melindungi harimau berarti melindungi hutan Sumatera – dan pada akhirnya, menjaga kestabilan lingkungan serta keanekaragaman hayati Indonesia. (SMS | Foto: Istimewa)
